nb : hanya diambil melalui kamera hp seadanya di sela-sela berjualan dimsum, jus buah dan lemon tea
Hasil Karya PlayDough Kelas 3H KBN STAN
kesempurnaan tidak akan hadir tanpa adanya kekurangan
tidak ada anggapan kecuali hanya sebuah asumsi sementara
ada tempat di dunia ini yang tidak terbuat dari batu.. Sesuatu dalam diri kita yang tidak bisa mereka dapatkan,tidak bisa mereka sentuh. Sesuatu itu adalah Harapan.–The Shawshank Redemptions
bukanlah suatu keharusan kecuali keinginan yang terus meningkat untuk menjadi yang terbaik
Membuka pikiran tidak semudah menutup dan menyesatkannya. Sangat berbeda
hukuman yang paling baik atas kesalahan diri sendiri idalah memaafkan kesalahan itu
sebuah describe dari blog milik makmum cantik
Hak Kami Sebagai Bukan Perokok ?
Menarik membaca sebuah postingan di blog ini tentang bagaimana Taufiq Ismail menyentil tentang Indonesia sebagai surga para perokok. Mereka para perokok berhak untuk mencemari udara dengan asap rokok, lalu bagaimana dengan hak kami sebagai bukan perokok yang menginginkan udara bersih bebas dari asap rokok.
Semoga puisi karya Taufiq Ismail ini mampu membuka mata kita tentang dampak merokok yang merugikan kita (baik perokok maupun bukan perokok) dan generasi penerus kita.
Tuhan Sembilan Senti
Oleh : Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
sumber : disini
Mengoprak-oprak
Sebuah sms dari ketua harian PPM kepada saya yang tengah dilanda kegalauan karena ketika mengingatkan beberapa teman untuk tetap semangat mencari ilmu tidak semudah yang saya bayangkan.
” Tak ada yang tak berat dalam perjuangan fan, emang sudah dalilnya bahwa menegakkan kebenaran pasti banyak cobaan yang datang, minta tolonglah pada Allah agar kita bisa melaksanakannya, dan ingatlah kalau kau bisa “mengoprak2″ sampai berhasil, pahalamu ditambah sebanyak sebagaimana pahala yang diperoleh oleh temanmu yang kau “oprak2″, dan kalau kamu gak berhasil gak usah sedih, karena Allah lah yang memberi kesadaran, tugas kita sebatas mengingatkan saja
ajzkh “
ket : mengoprak = mengingatkan dengan ketegasan
ajzkh = alhamdulillahi jazakalohukhoiro
KETIDAKSENGAJAAN SERTA KEKAGUMAN
Karena sore tadi gak bisa ikut sesi sore untuk ngaji gegara kuliah sampai sore, jadi ikut yang sesi malam. Nah berhubung setelah ikut sesi malam, perut lapar. Maka pilihan ke taman kompleks adalah pilihan yang tepat untuk memenuhi haknya badan
Pas udah tiba di warung nasgor taman. Tempatnya sepi tapi pedagang sebelahnya yang jualan ayam goreng rame dengan para ukhti yang kayaknya juga abis ngaji.
Biasanya kalau sendiri, ane sambil makan buka hp. Sekedar lihat timeline atau beranda. Biar kelihatan sibuk
Gak sengaja. Ada pembicaraan yang nyangkut di telinga ane. Yaitu mereka membicarakan tentang puasa sunah. Karena besok hari kamis, pikiran ane sih mereka mau puasa sunah senin kamis.
Subhanallah. Pertama kalinya ane dengar kumpulnya para ukhti. Gak sengaja lho ya. Dan letak kagumnya ane yaitu dimana kebanyakan para perempuan lain banyak yang membicarakan hal-hal yang mungkin mudharatnya banyak, tapi tadi ane benar-benar takjub.
Semoga mereka para ukhti bisa tetap istiqomah untuk tetap senantiasa dalam kebaikan-kebaikan. Dan ditetapkan dalam keimanan
