Liburan semester 3 kali ini saya habiskan untuk menikmati kota jakarta dan sekitarnya, berhubung karena sewaktu tahun baru kemarin sudah balik ke kampung di lombok jadi liburan ini gak balik. Padahal rata-rata teman saya yang satu kampus pada balik kampung semua, jadi bisa dipastikan daerah kampus sekitarnya sepi, jadi saya putuskan untuk main ke teman satu SMA dulu yang bisa dibilang sahabat, dia sekarang kuliah di STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) yang ada di Bidara Cina Kampung Melayu Jatinegara Jakarta Timur. Namanya Wahyudi Septiawan.
Berhubung dia belum liburan dan memang katanya gak balik ke lombok juga jadi saya main kesana, semoga tidak mengganggu dia yang masih Ujian Akhir Semester, hehe.
Perjalanan dimulai sekitar setengah 2, dari Pondok Jaya Bintaro Sektor 5 Tangsel saya jalan ke perempatan Bintaro Plaza, fyi disini adalah perempatan paling amburadul yang pernah saya temui, traffic light tidak ada gunanya. Semua orang merasa bebas menggunakan jalan tanpa merasa ada peraturan yang seharusnya mereka taati, jadi jangan heran kalo disini terdengar bel kendaraan yang sangat kencang dan bertubi-tubi diiringi makian bahkan umpatan kebun binatang. Pemandangan yang memuakkan menurut saya.
Kemudian saya lanjutkan dengan mengendarai angkot 08 jurusan lebak bulus, dan saya meminta turun di organol rempoa tempat dimana metromini jurusan blok M biasanya nge-tem. Di dalam angkot, saya melihat ada kartu tanda pengenal sopir angkotnya, tapi saya perhatikan seksama kok gak persis ya, apa saya yang salah lihat atau gimana. Kemudian saya teringat dengan adanya sopir tembak, yaitu orang yang biasanya menggantikan sopir angkot asli. Entah ada manfaat atau enggak, tapi bagi sopir asli sopir tembak ini bisa menggantikan mereka di kala lelah menyerang. Ya sopir tembak ini juga ada sisi negatifnya, tahu peristiwa pemerkosaan di dalam angkot, ya salah satu diakibatkan dari kelemahan adanya kehadiran sopir tembak ini. Walaupun tidak semua sopir tembak seperti itu, mereka hanya ingin bekerja halal mencari makan.
Sekitar pukul 2 saya sudah berada di organol rempoa, langsung menaiki metromini 074 jurusan blok M. Keadaan metromini sepertinya sudah pernah saya ceritakan di postingan ini. Oh ya belum mencapai blok M kami diturunkan oleh sopirnya, gak tahu tuh tiba-tiba aja. Yang penting gak bayar dobel lah, fyi jauh dekat 2000 rupiah.
Akhirnya sampai di blok M, kemudian bersiap menunggu bus r921 atau r107 jurusan kampung melayu, tapi apa mau dikata ternyata menurut penjaja koran di terminal, dua bus titu udah gak beroperasi, padahal itu satu-satunya harapan saya kalau mau main ke kampung melayu. Bersama seorang nenek berumur sekitar 70 tahun yang juga mau menuju kampung melayu, saya temani ngobrol sembari masih berharap dua bus itu salah satunya lewat. Setelah merasa memang bus itu gak bakal lewat nenek tadi pergi entah ke mana, semoga dia sampai di rumahnya dengan selamat. Saya pun masih setia menunggu dua bus itu, tapi kemudian ada seorang ibu datang, kemudian duduk di samping saya, dia memberitahu kalo r921 dan r107 udah gak beroperasi, jadi sebaiknya ntar naik 46 aja ke cawang terus turun naik angkot ke kampung melayu. Entah kenapa ibu itu seperti akrab dengan saya sembari menceritakan kesibukannya sebagai penjaja kopi di blok M dan mengenai anaknya yang bekerja di daerah Jaktim. Saya dengarkan sembari melemparkan senyuman tanda mengerti yang dibicarakan ibu.
Karena memang sudah sore juga, saya putuskan mengikuti saran ibu tadi untuk naik 46. Setelah duduk di kursi bus saya melihat dari dalam, di luar terlihat seorang laki-laki memegang (maaf) bokong seorang cewek SMA yang kemungkinan adalah pacarnya, setelah itu si lelaki mencium kening cewek tadi dan kejadian ini di ruang publik. Terus kenapa? bukan Continue reading














