Aku, Kamu, Mimpi dan Kita

Aku sekarang berada di  kursi nomor 9 dari depan sebelah kanan bus carita yg hendak kembali menuju bintaro
Berada satu tujuan dengan kamu
Menghirup udara yg sama, Mentertawakan hal yg sama, kelelahan karena hal yg sama dan bahkan berbagi makanan kecil dari bungkus yg sama.
Perjalanan dari carita ke bintaro membutuhkan waktu 5 jam, namun perjalananku menuju tempat dudukmu dapat kutempuh hanya dalam waktu 5 detik.

Angin yg lewat di sela-sela jendela bus sedikit demi sedikit menghilangkan keringat di badan akibat panasnya berada di dalam kaleng mesin berwarna hijau ini
Mimpi-mimpi yang aku tuliskan satu persatu akan tercoret sedikit demi sedikit seperti keringat yang hilang perlahan. Bukan karena aku gagal meraihnya tapi justru keringat yang aku peras akan terbayar lunas dengan tercapainya impianku.
Dan tentu aku ingin itu bersama kamu.

Kamu yang ku kenal dari sebuah kesalahpahaman.
Kamu yang pernah seolah termiliki hatinya oleh orang lain.
Kini kamu bebas. Kamu bebas dalam pedoman yang mengantarkan aku dan kamu menuju mimpi tertinggiku.

Aku akan datang ke ayahmu dengan membawa buah tangan berupa keberanian untuk membangun mimpiku, mimpimu dan mimpi kita.
Kuyakinkan pula agar kekhawatiran dari ibumu terjawab saat kupastikan aku juga tidak lupa membawa hadiah terpenting berupa tanggung jawab dalam rumah tangga kita nantinya.

Aku mencintaimu. Tapi aku pun tak mendekatimu. Tak kan kukotori indahnya mimpi kita nanti dengan keadaanku yang melampaui kebebasan pedoman kita.
Tak kan mau aku bertindak seperti pecundang yang hanya ingin mencoba mendekatimu, lalu pergi meninggalkanmu. Bahkan menghancurkan mimpimu yang aku tahu sama dengan mimpiku.

Kita. Seandainya pun nanti tak berjodoh. Tak kan ku sesali itu. Aku percaya akan ada pangeran berkuda putih yang datang membawa bunga kebahagiaan untukmu di dunia dan di akhirat nanti.

Aku akan selalu menjadi pengagum rahasiamu. Yang mencintaimu karena cintanya aku pada Tuhanku. Yang memastikan dirimu selalu dalam batasan kebebasan yang indah dan mengindahkan untuk mimpi muliamu.

Aku takut? Iya
Aku lemah? Iya
Aku takut kepada Tuhanku
Dan akupun lemah terhadap Nya

Hingga saat nanti aku datang dengan selembar kertas berwarna merah muda dan tertulis namamu di situ
Maka tunggulah aku
Aku hanya ingin. Kamu. Mimpi. Dan Kita akan indah di dalam naungan cinta yang Maha Indah dan Maha Cinta.

Desember, 15 2013
adiekeputran

Karena sudah lama tidak mencoba sastra macam puisi. Timbul keinginan menulis lagi. Walaupun ala kadarnya seenggaknya mulai nulis lagi hehe.
Perlu diketahui ini murni tulisan karangan penulis karena bosan juga di bus gak ngapa-ngapain, tidak ada hubungannya dengan siapapun. Saya takutnya ketika dibaca teman-teman karib timbul kesalahpahaman. Hehe.

Kembali Ku Di Sini

Judul di atas mungkin tepat buat saya yang sudah lama tidak menulis di blog ini, jangankan untuk menulis nengokin aja udah jarang banget. Sekalinya nengokin cuman buat mastiin blog ini masih ada yg ngunjungi atau nggak. Eh ternyata ada saja yg berkunjung. Entah sepertinya mereka tersesat, hehe :p Saya ucapkan terimakasih buat teman-teman yang udah datang ke blog ini.
Jadi ceritanya saya sekarang sudah resmi bukan lagi mahasiswa STAN karena Alhamdulillah berkat pertolongan Allah saya berhasil diwisuda 23 oktober lalu dengan menjadi urutan ke 116 dari sekian lulusan DIII Kebendaharaan Negara angkatan 2010 di STAN. Bangga? Walaupun urutan 116 saya katakan saya BANGGA.
Bangga bagi saya bukan berarti menunjukkan bahwa saya mampu lulus dari PTK yang menurut sebagian orang cukup terkenal ini tapi lebih ke rasa bangga dimana saya bisa memenuhi amanah yang orang tua saya berikan ketika pertama kali akan berangkat merantau ke kampus ini. Saya sangat bersyukur sekali.
Lalu banyak yang bertanya sekarang dimana? masih di bintaro atau sudah di mataram? sudah penempatan atau belum? kegiatannya apa setelah wisuda? sudah punya calon istri atau belum?
Banyak pertanyaan memang. Terutama dari teman-teman semasa di mataram.
Saya pun sebenarnya bingung mau jawab gimana. Hehe.
Sekarang saya bersama 13 orang terpilih. Saya tidak tahu saya termasuk yg terpilih atau hanya menjadi penggenap jumlah agar menjadi 14 orang.
10 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Semua lulusan STAN tahun ini tahun 2013.
Di saat banyak pilihan untuk melakukan banyak kegiatan seperti magang di beberapa kantor konsultan pajak ataupun menjadi auditor junior di KAP bahkan bersantai-santai di kampung halaman melepas rindu dengan sanak saudara disana. Mereka tidak memilih itu semua.
Mereka memilih untuk melakukan kegiatan antimainstream. Berusaha menjadi mubaligh dan mubalighot yang paham Alquran dan Alhadits.
Bertahan di sini di Pondok Pesantren Mahasiswa Bina Insan Mulia Jakarta Selatan 1. (to be continued)
image